Senin, 21 Agustus 2017

Bab I : Budaya Politik - Laporan Observasi 2


LAPORAN PERTUMBUHAN BUDAYA POLITIK MASYARAKAT DESA BANDAR LOR


Disusun oleh Kelompok 3                  :
·      Faradila                                   (10)
·      Fihimatika Jauhar M               (11)
·      Lili Amelia U                          (18)
·      Salsabila Azzahro                    (31)
·      Yentritenia Fathimah A           (33)

Narasumber                                                     : Muhammad Mughni Anwar     
Tempat dan Tanggal Pelaksanaan                    : Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 17.00 – 17.50 WIB 
Hasil Observasi                                               :

            Dalam rangka mengamati pertumbuhan budaya politik warga desa serta partisipasi warga sekitar dalam jalannya pemerintahan, kami melakukan wawancara dengan Bapak Mughni selaku Ketua RT 09 RW 02 Desa Bandar Lor, Kediri. Beliau telah menjabat selaku ketua RT mulai tahun 2000 hingga sekarang, dimana setiap 3 tahun diadakan pemilihan ketua yang baru. Sebagai ketua RT, beliau mempunyai tugas melayani warga dengan baik karena telah diberi kepercayaan oleh warga.

            Program kerja yang telah dilaksanakan di RT 09 RW 02 Desa Bandar Lor antara lain Prodamas atau Program Pemberdayaan Masyarakat dan gotong royong untuk membersihkan lingkungan setiap 3 bulan sekali. Program kerja tersebut dibentuk oleh kepanitiaan RT yang meliputi bendahara, sekretaris, dan humas dengan melibatkan semua warga.

            Musyawarah rutin diadakan untuk menampung usulan-usulan warga. Apabila terjadi perbedaan pendapat, warga biasa merundingkan kembali masalah-masalah yang ada lalu dipilihlah usulan yang sekiranya perlu dilaksanakan lebih dulu atau usulan yang darurat. Rapat atau musyawarah tersebut biasa dilakukan pada tanggal 5 setiap bulan bersamaan dengan arisan bapak dan ibu warga sekitar.

            Dalam menanggapi program kerja yang ada, warga selalu berpartisipasi aktif dan antusias. Bapak Mughni mengatakan bahwa selama beliau menjabat sebagai Ketua RT 09, tidak ada warga yang acuh tak acuh dalam mengikuti program kerja maupun memberikan masukan kepada perangkat desa agar kondisi desa yang tentram bisa lagi ditingkatkan.

            Dapat kita simpulkan bahwa kedasaran berpolitik warga RT 09 RW 02 Desa Bandar Lor sudah tinggi. Bisa dilihat dari partisipasi warga yang tinggi dalam pemerintahan daerah setempat. Jadi warga RT 09 RW 02 Desa Bandar Lor termasuk dalam tipe budaya politik partisipan (Participant Political Culture) yaitu kelompok masyarakat yang telah sadar mengenai hak-hak mereka untuk terlibat dalam penyelenggaraan pemerintahan.


                                 

Buku Administrasi tempat Bapak Mughni                      Buku berisi profil warga RT 09 RW 02
mencatat data-data penting

Minggu, 06 Agustus 2017

BAB I : Budaya Politik - Laporan Observasi

LAPORAN PERTUMBUHAN BUDAYA POLITIK MASYARAKAT KELURAHAN SUKORAME


Disusun oleh Kelompok 3                  :
·      Faradila                                   (10)
·      Fihimatika Jauhar M               (11)
·      Lili Amelia U                          (18)
·      Salsabila Azzahro                    (31)
·      Yentritenia Fathimah A           (33)

Narasumber                                         :           Iswahyudi

Tempat dan Tanggal Pelaksanaan        :           Kelurahan Sukorame RW 06 RT 21
                                                                        Hari Minggu, 6 Agustus 2017
                                                                        Pukul 15.00 – 16.00 WIB
Hasil Observasi                                   :

            Berdasarkan hasil wawancara yang kelompok kami lakukan dengan Bapak Iswahyudi selaku Ketua RW VI pada hari Minggu, 6 Agustus 2017 mengenai partisipasi warga dalam proses pemerintahan, kami mendapat beberapa keterangan sebagai berikut. Bapak Iswahyudi telah menjabat sebagai Ketua RW VI selama 2 periode atau 6 tahun. Sebelum beliau menjabat sebagai Ketua RW, belum ada pembagian kepemimpinan di kelurahan tersebut seperti RT dan RW. Hal tersebut menjadikan kondisi daerah tersebut kacau.

            Tugas Pak Iswahyudi sebagai RW adalah menginformasikan kepada ketua RT progam kerja apa saja yang berikan oleh Ketua Kelurahan. Program kerja tersebut biasa disebut Prodamas atau Program Pemberdayaan Masyarakat, seperti kerja bakti, pemasangan bendera untuk menyambut HUT RI, dan pembersihan gorong-gorong.

            Masyarakat dan ketua RT serta ketua RW tidak hanya menerima perintah dari ketua kelurahan, mereka sering kali memberikan usulan mengenai hal-hal apa saja yang sekiranya perlu untuk diadakan. Berdasarkan keterangan Bapak Iswahyudi, masyarakat daerah tersebut aktif dalam memberikan usul serta mengikuti program kerja yang telah diberikan. Dan dalam melaksanakan program tersebut, warga tidak memberikan tanggapan negatif.

            Setiap bulan pada Kelurahan Sukorame selalu diadakan rembug warga yang bertujuan untuk menampung segala usulan yang ada dan menyelesaikan perbedaan pendapat yang ada. Namun selama Bapak Iswahyudi menjabat sebagai Ketua RW, belum pernah terjadi pembedaan pendapat yang serius atau berujung pada perselisihan antar warga, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebelum dipilihnya ketua RW dan RT.


            Jadi dapat kita simpulkan bahwa sebelum dipilihnya ketua RT dan RW, masyarakat Kelurahan Sukorame termasuk dalam tipe budaya politik kaula atau subjek (Subject Political Culture) karena mereka cenderung pasif dalam membicarakan masalah yang terjadi di sekitar. Namun setelah dipilihnya ketua RT dan RW, masyarakat menjadi lebih tertib dan aktif dalam menjalankan program-program yang ada. Keaktifan tersebut menandakan mereka termasuk dalam tipe budaya politik partisipan (Participant Political Culture).

Berikut link untuk video wawancara kami https://youtu.be/jjpN16sBCQI


Dari kiri ke kanan : Salsabila A, Faradila, Bapak Iswahyudi, Yentritenia F.A, Lili Amelia U, Fihimatika J.M.

BAB I : BUDAYA POLITIK

Uji Kompetensi 1 (hal. 3)

1.     Jelaskan pengertian budaya politik menurut Mirian Budiarjo!
Jawab : Budaya adalah keseluruhan dari pandangan-pandangan politik, seperti norma-norma, pola-pola orientasi terhadap politik, dan pandangan hidup pada umumnya

2.     Apakah setiap masyarakt mempunyai budaya politik? Berikan analisis anda!
Jawab : Ya, karena pada hakikatnya setiap manusia itu memiliki jiwa politik, contohnya pada zaman nenek moyang sudah dibentuk kepala suku/kepala adat, yang dengan sendirinya menunjukkan bahwa manusia itu dilahirkan dengan naluri untuk berpolitik

3.     Jelaskan yang dimaksud dengan orientasi kognitif dalam orientasi politik!
Jawab : Orientasi kognitif adalah orientasi politik yang mencangkup berbagai pengetahuan dan keyakinan tentang sistem politik

4.     Sebutkan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat budaya politik suatu negara!
Jawab : Tingkat pendidikan masyarakat, tingkat ekonomi masyarakat, reformasi politik, supremasi hukum, media komunikasi yang independen

5.     Pernahkah anda mengikuti aksi demonstrasi? Apa yang memotivasi anda melakukannya? Jelaskan analisis anda!

Jawab : Tidak, menurutsaya ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan aspirasi yang dimiliki yaitu dengan cara berdiskusi dengan baik-baik dan  tidak melakukan sesuatu yang membahayakan warga sekitar

Selasa, 25 Juli 2017

Tugas 1 - Mendeskripsikan Pengertian Budaya Politik

A.   Deskripsi Pengertian Budaya Politik
Pengertian budaya politik secara umum adalah suatu pola perilaku suatu masyarakat dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara, penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, adat istiadat, dan norma kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya.

Budaya politik yang ada di setiap negara berbeda beda, ada banyak hal yang mempengaruhinya, seperti situasi, kondisi, dan pendidikan masyarakat dalam negara tersebut. Latar belakang tersebut tentunya terjadi di sekitar pelaku politik. Mereka dianggap memiliki kewenangan dan kekuasaan dalam membuat kebijakan. Dengan demikian, budaya politik yang berkembang dalam masyarakat suatu negara akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

B.    Identifikasi Ciri-Ciri Budaya Politik
·      Terdapat pengaturan kekuasaan 
·      Perilaku dari aparat-aparat negara 
·      Proses pembuatan kebijakan pemerintah 
·      Adanya kegiatan partai-partai politik 
·      Adanya gejolak masyarkat terhadap kekuasaan yang memerintah 
·      Mengenai pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat
·      Adanya budaya politik mengenai masalah legitimasi

C.   Identifikasi Macam Budaya Politik
1. Budaya Politik Parokial 
Budaya Politik Parokial adalah budaya politik dengan tingkat partisipasi politik yang sangat rendah. Budaya politik parokial umumnya terdapat dalam masyarakat tradisional dan lebih bersifat sederhana. Berdasarkan pendapat Moctar Masoed dan Colin Mc. Andrew, yang mengatakan budaya politik parokial adalah orang-orang yang tidak mengetahui sama sekali adanya pemerintahan dan politik.
Ciri-Ciri Budaya Politik Parokial :
  Apatis 
  Lingkupnya sempit dan kecil 
  Pengetahuan politik rendah 
  Masyarakatnya yang sederhana dan tradisional
  Adanya ke tidak peduli dan juga menarik diri dari kehidupan politik 
  Anggota masyarakat condong tidak berminat terhadap objek politik
   yang luas 
  Kesadaran anggota masyarakat mengenai adanya pusat kewenangan
   dan kekuasaan dalam masyarakatnya rendah
  Tidak ada peranan politik bersifat khusus 
  Warga negara tidak sering berhadap dalam sistem politik

2. Budaya Politik Kaula/Subjek 
Budaya politik kaula adalah budaya politik dengan masyarakat yang suda relatif maju baik sosial maupun ekonominya, namun masih relatif pasif. Budaya politik kaula atau subjek berada pada orang secara pasif patuf pada pejabat-pejabat pemerintahan dan undang-undang, akan tetapi tidak melibatkan diri dalam politik ataupun memberikan suara dalam pemilihan. Budaya politik kaula memiliki tingkat perhatian pada sistem politik sangat rendah.
Ciri-Ciri Budaya Politik Kaula/Subjek :
  Masyarakat menyadari sepenuhnya otoritasi pemerintah 
  Sedikit warga memberi masukan dan tuntutan kepada pemerintah, namun dapat menerima apa yang berasal dari pemerintah 
  Menerima putusan yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dikoreksi, terlebih lagi ditentang. 
  Sikap warga sebagai aktor politik adalah pasif, artinya warga tidak dapat berbuat banyak untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik. 
  Warga menaruh keadaran, minat, dan perhatian pada sistem politik secara umum dan khusus terhadap objek output, sedangkan untuk kesadarannya terhadap input dan kesadarannya sebagai aktor polirik masih rendah. 

3. Budaya Politik Partisipan 
Budaya politk partisipan adalah budaya politik yang ditandai adanya kesadaran politik yang sangat tinggi. Budaya politik partisipan dapat dikatakan suatu bentuk budaya yang anggota masyarakatnya condong diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem sebagai keseluruhan dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif. Budaya politik yang ditandai dengan adanya kesadaran dirinya atau orang lain sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik. Umumnya masyarakat budaya politik partisipan sadar bahwa betapapun kecil partisipasi dalam sistem politik, tetap saja merasa berarti dan berperan dalam berlangsungnya sistem politik. Begitu pun dengan budaya politik partisipan, masyarakat tidak menerima langsung keputusan politik, karena merasa sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik yang memiliki hak dan tanggung jawab.
Ciri-Ciri Budaya Politik Partisipan 
  Warga menyadari hak dan tanggung jawabnya dan dapat mempergunakan hak serta menanggung kewajibannya 
  Tidak begitu saja menerima keadaan, tunduk pada keadaan, berdisiplin tetapi dapat menilai dengan penuh kesadaran semua objek politik, baik secara keseluruhan, input, output, maupun posisi dirinya sendiri. 
  Kehidupan politik sebagai sarana transaksi, misalnya penjual dan pembeli. Warga menerima menurut kesadarannya tetapi dapat menolak menurut penilainnya sendiri. 
Menyadari sebagai warga negara yang aktif dan berperan sebagai aktivis. 

D.   Faktor Penyebab Berkembangnya Budaya Politik di Daerahnya
Budaya politik suatu daerah berakar dari budaya lokal dan dapat berkembang melalui interaksi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dengan moderenisasi dunia luar/luar daerahnya.

E.    Evaluasi Budaya Politik yang Berkembang di Masyarakat
Budaya politik di Indonesia ialah sebuah perwujudan dari nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia sebagai suatu pedoman kegiatan-kegiatan politik kenegaraan. Setelah era reformasi orang menyebut Indonesia telah menggunakan sebuah budaya Politik partisipan karena telah bebasnya Demokrasi, karena partisipatifnya masyarakat dan tidak tunduk dari sebuah keputusan atau kinerja pemerintah baru etika. Pada saat ketika era orde baru demokrasi dikekang, baik segala bentuk media dikontrol dan diawasi oleh pemerintah melalui departemen penerangan agar tidak mempublikasikan suatu kebobrokan pemerintah. 
Budaya politik Indonesia terus mengalami suatu perubahan yang mengikuti perkembangan zaman. Tetapi berubahnya terjadi di daerah perkotaan dan pedesaan yang telah maju tetapi pada daerah-daerah terpencil tidak terjadi sebuah perubahan karena kurangnya dalam pendidikan dan informasi.


Di Indonesia memakai budaya politik partisipan karena telah bebasnya Demokrasi, partisipatifnya masyarakat dan tidak tunduk dari keputusan atau kinerja pemerintah baru etika.